Apakah Arsitektur ?

Arsitektur bukanlah barang baru, sejak dulu menjadi bahan perbincangan, diskusi dan kekaguman bahkan ada pula yang dinista. Sampai kinipun cukup banyak pendapat dan telaah tentang arsitektur. Mulai dari metode merancang, teori, sampai pengaruh dan apresiasi arsitektur.� Tak heran jika arsitektur memiliki definisi yang banyak dan beragam. Pada zaman Vitruvius arsitektur identik dengan gedung (termasuk kota/ benteng, aquaduct/instalasi air) �tetapi kini kata arsitektur juga dipakai oleh disiplin ilmu lain seperti istilah �arsitektur computer�, �arsitektur internet�, �arsitektur kapal�, �arsitektur strategi perang� �bahkan ada istilah �arsitektur parsel�. Secara gamblang istilah-istilah itu merujuk pada gagasan atau ide rancangan yang akan diwujudkan menjadi nyata.

Secara spesifik arsitektur adalah keseluruhan proses mulai dari pemikiran/ ide/ gagasan, kemudian menjadi karya/ rancangan, dan diwujudkan menjadi hasil karya nyata yang dilakukan secara sadar (bukan berdasarkan naluri) dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan akan ruang guna mewadahi aktivitas/ kegiatannya yang diinginkan serta menemukan eksistensi dirinya.

Alam ini adalah ruang nir-batas, ruang hidup manusia bersama binatang, tumbuhan dan ruang bagi benda-benda alamiah. Berarsitektur dilakukan secara sadar bukan secara naluri oleh karena itu berarsitektur hanya bisa dicetuskan setelah melalui proses belajar. �Melalui proses belajar arsitektur menjadi dinamis terus berkembang integral dengan perkembangan budaya/kegiatan manusia.� Gua adalah benda alamiah, fenomena� kerja alam yang kemudian diintervensi oleh manusia guna memenuhi kebutuhan akan tempat berteduh. Ketika gua dirasa sudah tidak dapat lagi memenuhi perkembangan kegiatan, manusia mulai berpikir untuk membuat shelter yang kemudian berkembang dan �akhirnya tercipta rumah.� Berbeda dengan burung yang secara naluri membuat �ruang� (sarang) �tempat bertelur dan membesarkan anak-anaknya dari dulu hingga kini wujud �sarang�, tidak ada yang berubah baik bentuk, struktur maupun materialnya.

Ketika manusia mulai membuat rumah, manusia �mengintervensi alam dengan teknologi. Kemudian, karena kesadaran akan keindahan merupakan naluri alami manusia, maka ke dalam semua tradisi� berarsitektur masuklah unsur seni/estetika. Ketika kekuatan alam sangat berpengaruh maka arsitektur akan didominasi oleh struktur/teknologi (contoh: Arsitektur Jepang), tetapi ketika kekuatan alam tidak terlalu berpengaruh maka arsitektur didominasi oleh unsur seni/ art (Arsitektur Eropa). Pada� awal masa jayanya arsitektur, unsur art menjadi lebih dominan. Dalam perkembangan selanjutnya ketika terjadi revolusi industri dan teknologi menjadi sesuatu yang sangat di-gandrungi maka sekelompok filsuf berpandangan bahwa seharusnya arsitektur� didominasi oleh teknologi. Issu inipun menjadi debat kusir (Ecole de Beaux Arts vs Ecole Polytechtique di Perancis dan Harvad vs MIT di USA). Jadi, jika arsitektur tidak pure termasuk kelompok seni� juga tidak pure termasuk kelompok teknologi,

Dimanakah posisi arsitektur?

Arsitektur berpijak diantara keduanya. Seni dan teknologi bagaikan dua kutub yang berseberangan dan aspek nilai guna satu titik lain di atasnya, sehingga membentuk segitiga (bentuk stabil). Seni dan teknologi� harus seimbang saling mengisi, bagaikan tubuh� dan roh. Arsitektur yang didominasi oleh teknologi akan terasa hambar, kaku, monoton untuk itu diperlukan seni. Arsitektur yang didominasi oleh seni akan terasa mubazir, over acting dan diragukan kekuatannya. Arsitektur yang tidak memenuhi aspek nilai guna adalah sampah (seperti garam yang tidak asin).

Apakah seni dalam konteks arsitektur ?

Nilai estetika seni dalam arsitektur memang sulit diukur, penilaian orang terhadap sesuatu apakah esteik atau tidak memang sangat relative. Namun dapat kita sederhanakan klasifikasi dari kategori estetika menjadi : keindahan beauty (adanya relasi formal antara harmoni dan proporsi); kesenangan pleasure (adanya relasi fungsional antara efisiensi dan kenyamanan); kesukaan delight (adanya relasi makna antara asosiasi dan selera). Unsur seni/estetika dalam arsitektur tidak sebatas ornament sebagai unsur dekoratif tetapi keseluruhan bentuk unity dari objek nyata arsitektur dan lingkungannya.� Bentuk struktur bangunan atau material bangunan juga dapat bernilai estetis jika memenuhi 4 kategori diatas. Dengan unsur �teknologi, seni dan �nilai guna,

Apakah arsitektur dapat disebut ilmu ?

Bilamanakah disebut ilmiah? Jika memlilki metode, kebenaran dan sistematis. Cara atau jalan untuk mencari kebenaran dalam ilmu disebut metode. Kebenaran adalah kesesuaian antara penge�tahu�an dan objeknya. Objek, metode dan kebenaran dapat di susun satu persatu sehingga membentuk dan mempunyai arti dalam satu keseluruhan.

Pengetahuan yang dimulai dari aspek nilai guna ini pada awalnya dipandang rendah oleh para teoritisi, terutama para pemikir di Yunani. Sejarah �mencatat, dalam perjalannya arsitektur telah mengembangkan diri demi pencapaian kebenaran, hingga akhirnya ilmu pengetahuan arsitektur nyaris setingkat dengan ilmu-ilmu pengetahuan lain. Pada akhir abad ke-19 arsitektur mulai dibuka sebagai satu departemen/jurusan tersendiri sehingga profesi arsitektur semakin diakui(naik kelas tidak setara lagi dengan budak). Jadi, supaya tetap eksis sebagai ilmu pengetahuan,� arsitektur tidak saja harus mengandung unsur seni, teknologi (pengetahuan praktis) dan nilai guna tetapi harus terus� melakukan pengembangan pengetahuan arsitektur itu sendiri. �Tidak boleh mandek pada satu kebenaran pengetahuan arsitektur yang semu atau yang bukan hakekat kebenaran pengetahuan arsitektur.

Bagaimanakah strategi agar pengetahuan arsitektur dapat berkembang dalam rel hakekat kebenaran arsitektur ?

Berbeda dengan disiplin ilmu murni yang cenderung deskriptif – analitis, pengetahuan arsitektur lebih cenderung prespektif – sintesis. Pengembangan pengetahuan arsitektur berhubungan dengan lembaga pengajaran/ pendidikan. Kenyataan saat ini (tanpa mencari kambing hitam) para lulusan universitas jurusan arsitektur umumnya adalah produk �practice oriented� atau menjadi �arsitek tukang�. Akibatnya �arsitek tukang� kadang tersesat pada kebenaran arsitektur yang semu. Karena tidak memiliki dasar pemahaman tentang asritektur yang kuat �arsitek tukang� cenderung mencontoh pada karya arsitektur yang telah ada, misalnya bentuk kubah pada atap dan selubung bangunan Ratu Mall Makassar maka bentuk selubung bangunan sejenis men-duplikasi bentuk tersebut (Mall Panakukang dan� Mall GTC termasuk karya-karya Tugas Akhir mahasiswa S1 UNHAS masa itu) padahal belum tentu bentuk selubung bangunan tersebut sesuai dengan konteks lingkungan fisik/alam dan budaya di Makassar (chaotic). Akibatnya ada konsekwesi-konsekwensi yang harus di bayar antara lain hilangnya ciri khas arsitektur setempat (local genius), ketergantungan pada energi (untuk peng-kondisian udara dan pencahayan). Itulah celakanya jika objek arsitektur yang dijadikan contoh (dianggap suatu kebenaran) ternyata pada waktu yang panjang (long term)malah menimbulkan penurunan kualitas lingkungan dimana objek arsitektur itu berada (ternyata kebenaran yang semu ).

Model pendidikan arsitektur yang �practice oriented� harus diganti dengan kegiatan �riset akademik�. Dalam kegiatan riset akademik telah tercakup filsafat ilmu yang dapat dijadikan landasan intelektual bagi kegiatan keilmuan.

Studio perancangan dijadikan �back bone� pengajaran pada level S1, sedangkan riset akademik pada level ini� bersifat evaluasi kelayakan dan efisiensi� �objek arsitektur yang akan direalisasi. Dengan demikian setiap pengambilan keputusan pada tugas studio perancangan didasarkan pada hasil-hasil riset akademik sehingga keputusan yang diambil mendekati penyelesaian masalah yang nyata (prespektif dan reality). Pada level S2 riset akademik� ditekankan pada melatih kepekaan untuk membaca dan mendeskripsikan fenomena actual yang ada dengan cermat (evaluasi pasca huni). Pada level S3, riset ditekankan pada kemampuan melihat kedepan. Riset pada level ini mampu memberikan sumbangan yang nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan arsitektur, di mana hasil riset ini dapat dipergunakan sebagai tumpuan bagi pengajaran pada level S1 dan S2 . Diharapkan dengan memasukkan pengajaran riset akademik sejak awal, para calon ilmuwan arsitektur akan menjadi terlatih baik kemampuan intuisi, analitis, dan sintesisnya dalam mengambil setiap keputusan yang benar. Keputusan sang arsitek harus benar dan tepat, jika keliru maka itu menjadi fatal. Secara nyata akibatnya bangunan yang dibangun roboh saat digunakan, secara tidak nyata arsitektur akan mempengaruhi lingkungan dan perkembangan budaya setempat. Ilmuwan arsitektur tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan pertimbangan nilai guna(utilistik; profit-demand) dan pragmatistetapi berdasar kebenaran yang sesungguhnya (memanusiakan manusia penggunanya sesuai dengan konteks lingkungan alam dan budaya). Jadi dengan filsafat ilmu (arsitektur) sebagai� rel-nya dan riset akademik sebagai gerbongnya akan menghantar ilmu arsitektur pada perkembangan ilmu yang hakiki. Dengan demikian para (lulusan) ilmuan arsitektur �tanpa sedikitpun rasa gamang dan ragu, berkarya dengan penuh rasa tanggung jawab terhadap dirinya, lingkungannya dalam kehidupan nyata lewat ilmu arsitektur.

Dengan melakukan penimbaan pengetahuan arsitektur secara terus menerus, kita (dengan rendah hati) dapat dengan sadar mengetahui posisi keberadaan dalam konteks di bawah ini: Apakah kita�.

Tahu bahwa kita tahu tentang arsitektur

Tahu bahwa kita tidak tahu tentang arsitektur

Tidak tahu bahwa kita tahu tentang arsitektur

Tidak tahu bahwa kita tidak tahu tentang arsitektur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s