Inilah Curhat yang Membawa Prita ke Penjara

Prita Mulyasari adalah seorang ibu rumah tangga yang berasal dari Tangerang dan ibu dari dua anak adalah seorang pasien di Rumah Sakit Omni Internasional untuk suatu penyakit yang akhirnya salah didiagnosis sebagai gondok. Keluhannya tentang perawatannya yang dimulai sebagai sebuah surel pribadi yang dipublikasikan dan dia dipenjara setelah kalah dalam gugatan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh pihak rumah sakit. Kasus ini disorot secara berlebihan oleh pihak Kejaksaan Indonesia ketika kasus ini dihadapkan kepada orang-orang yang berpengaruh dan perusahaan. Karena dekatnya dengan pemilihan umum yang akan berlangsung pada tahun 2009, berbagai kandidat mengunjungi Prita Mulyasari di penjara untuk membuat persepsi publik mengenai kasus ini. Dukungan dari kelompok di MySpace telah menarik dukungan yang cukup besar serta juga dari situs blog di Indonesia. Kasus ini telah membawa perhatian pada klausul dari Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang saat ini sedang ditentang dan dipertanyakan sebagai akibat dari kasus Prita Mulyasari. Prita didenda 204 juta rupiah, menyebabkan dukungan baginya tumbuh lebih kuat. Sebuah milis dan kelompok Facebook yang disebut “KOIN UNTUK PRITA” mulai mengumpulkan uang dari orang-orang di seluruh Indonesia. Orang-orang mulai mengumpulkan koin untuk membantu Prita membayar denda. Melihat dukungan besar bagi Prita, RS Omni Internasional mencabut gugatan perdatanya. Mahkamah Agung (MA) mengabulkan permohonan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan Prita Mulyasari. Prita dibebaskan dari dakwaan dan hukuman 6 bulan penjara dengan masa percobaan 1 tahun seperti termaktub dalam Kasasi MA, 2011 lalu. Atas hasil PK tersebut, Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) memberi tanggapannya. Melalui rilis yang diterima Media Indonesia, Selasa (18/9), Sekretaris Eksekutif ICJR Adiani Viviana mengatakan pihaknya memberikan apresiasi khusus kepada MA. “Putusan ini menjadi penting dalam sejarah perbaikan sistem hukum di Indonesia, dan menjadi catatan bersejarah dalam kehidupan kebebasan berekspresi,” ujar Adiani Viviana. Ia mengatakan putusan itu bisa mengurangi rasa takut masyarakat luas dalam menyampaikan pendapat, informasi atau berekspresi, khususnya secara tertulis melalui dunia maya. Kasus Prita Mulyasari berawal dari tulisannya melalui surat elektronik yang berisi keluhan atas pelayanan Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera Tangerang. Tulisan itu kemudian menyebar dan berbuah gugatan perdata serta pidana dari pihak RS Omni Internasional. Pada 13 Mei 2009 lalu (tepat 1 tahun 1 bulan UU itu berlaku), Prita Mulyasari ditahan di LP Wanita Tangerang, dengan sangkaan melakukan tindak pidana pencemaran nama baik sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE terhadap RS Omni Internasional Alam Sutera Tangerang. Kasusnya kemudian berproses hingga Mahkamah Agung. Seperti diberitakan sebelumnya, MA akhirnya membebaskan Prita Mulyasari dari tuduhan pencemaran nama baik. Majelis peninjauan kembali (PK) MA juga memutuskan untuk memulihkan harkat dan martabat pegawai bank ini. “Memulihkan hak terpidana dalam kemampuan, kedudukan, dan harkat serta martabatnya,” kata Kepala Biro Hukum dan Humas MA Ridwan Mansyur saat membacakan petikan putusan MA, di Jakarta, Senin (17/9). – Tokoh Ilmuwan Penemu – http://www.tokoh-ilmuwan-penemu.com/2012/09/prita-mulyasari-rumah-sakit-omni.html
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s